Kesehatan adalah ‘tabungan’ jangka panjang suatu bangsa
Ketika Senin malam, 15 Juni 2009, TV Bloomberg menyiarkan secara langsung dari Chicago (AS) pidato Presiden Barack Obama di depan American Medical Association, saya terkesan dengan ungkapannya yang menyiratkan bahwa masyarakat Amerika adalah masyarakat yang hidup ‘boros’. Jadi sekali pun rata-rata santunan kesehatan masyarakat Amerika Serikat jauh lebih tinggi dari kebanyakan masyarakat negara berkembang, tapi masyarakat Amerika tidak hidup lebih sehat dari mereka yang tinggal di negara berkembang. Dengan kata lain, sekali pun tersedia jaminan layanan kesehatan yang jauh lebih baik bagi masyarakat Amerika, tapi karena pola hidup mereka yang ‘boros’ maka tidak murah biaya untuk memelihara tingkat kesehatan yang sama yang dapat dicapai oleh masyarakat yang relatif lebih miskin.
Saya terhenyak karena mendadak sadar bahwa pola hidup boros bukan hanya tercermin dari pola konsumsi berlebihan, terutama dengan dukungan tingkat leverage hutang konsumsi yang begitu tinggi pada masyarakat Amerika. Hidup ‘boros’ juga tampak jelas dari gaya hidup tidak sehat, yang pada gilirannya menyebabkan pemborosan biaya santunan kesehatan di Amerika Serikat. Masih menurut Presiden Obama, kebangkrutan banyak perusahaan di Amerika Serikat setahun terarkhir ini antara lain akibat tidak efisiennya biaya santunan kesehatan karyawan mereka.
Lesson #1 bagi saya seminggu terakhir ini adalah pola hidup sehat adalah salah satu cara sebuah bangsa menjaga dan meningkatkan daya saingnya. Gaya hidup tidak sehat mengakibatkan pemborosan sumber daya suatu bangsa, yang pada gilirannya mengakibatkan tingginya biaya hidup masyarakat luas.
Hemat energi adalah ‘tabungan’ bagi generasi masa depan
Selasa siang, 16 Juni 2009, perilaku salah satu teman Jepang saya yang begitu concern dengan pemadaman tiap lampu di ruangan yang ditinggalkan kosong mengingatkan saya bahwa hidup hemat energi adalah pilihan yang tidak begitu sulit. Yang menarik, adalah Prof. Max Bazerman (dari Harvard Business School), dalam salah satu working paper nya tahun 2008 yang berjudul “Barriers to Acting in time on Energy and Strategies for overcoming them” bersusah payah menjelaskan argumentasinya agar Pemerintah Amerika Serikat dapat mengeluarkan kebijakan publik yang pro- hemat energi.
Prof. Max Bazerman berargumentasi bahwa ada 3 (tiga) hambatan dalam hal mengeluarkan kebijakan pro- hemat energi. Pertama, hambatan kognitif yang menjelaskan perilaku egois generasi jaman ini, yang begitu meremehkan pentingnya hidup hemat energi demi generasi masa depan, akibat ilusi mereka tentang indahnya kehidupan masa kini. Kedua, hambatan organisasional, yang tercermin dari rendahnya tingkat kesadaran administrasi pemerintahan Amerika Serikat akan pentingnya peran hidup hemat energi. Ketiga, hambatan politik, yang terjadi terutama akibat besarnya peran dan kontribusi perusahaan raksasa di Amerika Serikat dalam mempengaruhi kebijakan anti hemat energi.
Salah satu saran menarik dari Prof. Max Bazerman adalah Pemerintah Amerika Serikat harus segera mulai melakukan langkah-langkah kecil dan bertahap dalam mengkampanyekan kebijakan pro- hemat energi.
Lesson #2 bagi saya minggu ini adalah memulai gaya hidup hemat energi ternyata tidak harus sesulit makalah akademik Profesor dari Harvard University. Karena, perilaku hemat energi dapat dimulai secara sadar dari mematikan tiap lampu di ruangan yang tidak kita gunakan. Hidup hemat energi jelas merupakan ‘tabungan’ orang tua yang bersifat sangat strategis bagi generasi masa depan.
Hutang Luar Negeri vs. Budaya Menabung
Dalam salah satu kesempatan wawancara via telepon dengan seorang wartawan Kantor Berita Antara yang cerdas, saya mengatakan bahwa hutang luar negeri yang makin menumpuk adalah konsekuensi logis saja dari pola hidup boros, yang merupakan aplikasi dari kata pepatah ‘besar pasak daripada tiang’. Bagi saya, satu-satunya cara untuk mencegah penumpukan kewajiban Pemerintah unutk membayar hutang luar negeri dalam jangka pendek dan menengah, adalah mengalakkan Gerakan “hidup hemat & rajin menabung”.
Tanpa kemampuan masyarakat untuk menahan diri dari berkonsumsi secara berlebihan, menghindari penumpukan hutang luar negeri hanyalah sebuah keniscayaan jangka panjang. Budaya rajin menabung dan hidup hemat sudah lama digantikan dengan gaya hidup berhutang untuk konsumsi “hari ini”. Perlombaan menjual Kartu Kredit dan Kredit Tanpa Agunan terutama untuk tujuan konsumsi harus segera diganti dengan perlombaan menjual produk tabungan masa depan. Peran inovasi produk tabungan di sektor keuangan cukup penting dalam hal ini.
Lesson #3 bagi saya pribadi pada hari-hari ini adalah “hidup hemat, pantang berhutang untuk konsumsi”. Masyarakat yang bisa hidup hemat akan memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menabung, dan pada gilirannya untuk mengandalkan sumber pendanaan sendiri dalam melakukan investasi jangka panjang yang bersifat strategis.
Pemilihan Presiden dan Kampanye Hidup Anti Pemborosan
Pertanyaan strategis saya menjelang Pemilihan Presiden bulan depan adalah apa peran para pemimpin bangsa dalam mengalakkan kampanye hidup hemat (anti pemborosan). Apakah untuk mengembangkan budaya masyarakat untuk hidup hemat perlu sederetan kebijakan publik? Apakah pola hidup anti pemborosan memerlukan intervensi Pemerintah dan insentif pada sektor keuangan? Apakah kampanye untuk meningkatkan kesadaran ‘anti pemborosan’ lebih penting daripada kampanye ‘anti korupsi’?
Bagi saya pribadi, tema kampanye “ekonomi kerakyatan” atau “ekonomi neo-liberalisme” tidak begitu relevan. Dalam pandangan saya, selama kebijakan ekonomi kerakyatan berarti menstimulasi pola hidup konsumtif rakyat, dan selama kebijakan ekonomi neo-liberalisme berarti memacu nafsu belanja kalangan borjuis, keduanya akan sama-sama menguras sumber daya nasional kita, dan pada gilirannya pasti akan menurunkan daya saing bangsa ini.
Jadi, hidup hemat, baik dalam hal menjaga kesehatan, mau pun menggunakan energi, atau tercermin dalam perilaku rajin menabung akan mempunyai dampak strategis yang sangat signifikan bagi kejayaan bangsa ini di masa depan, baik dalam jangka pendek, apalagi dalam jangka panjang.
Tulisan ini jelas bukan materi kampanye politik, tapi kampanye sosial untuk mengajak seluruh masyarakat luas (baik secara pribadi mau pun kolektif) untuk sadar bahwa hidup hemat adalah pangkal kejayaan.
Selamat berhemat!




No Responses to “Problem Solving masalah ‘pemborosan’: Apa peran para pemimpin bangsa?,Alberto D. Hanani (Managing Partner BEDA & Company)”