kisah Made, pemilik Edam Burger

Kisah Hidup pemilik Edam Burger yang tak Pantang menyerah

MENJADI sukses adalah impian tiap orang. Begitu pula dengan Made Ngurah Bagiana. Namun Made tak pernah bermimpi, kelak dia akan sukses sebagai pengusaha burger, makanan bule. Kini ia memiliki 2000 outlet yang tersebar di berbagai kota.
Tempaan dalam kehidupan membuat Made bisa seperti sekarang ini. Terlahir dari keluarga sederhana pasangan Ni Ketut Telaga dan Ketut Mangku membuat Made terdidik hidup mandiri sejak bocah. Ia tak pernah merasakan yang namanya uang jajan pemberian dari orangtua. “Sejak kecil saya terbiasa mandiri. Orangtua hanya menyekolahkan kami, tapi tak memberi uang jajan. Kalau ingin jajan atau membeli sesuatu, Made harus berusaha sendiri. Untuk mengisi perutnya pun, Made harus masak sendiri. Ibunya hanya memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk di olah.
Untuk memperoleh uang jajan, Made memotong daun pisang, menjual daunnya atau menawarkan jasa kepada orang, misalnya membayarkan tagihan listrik, menera timbangan atau apa saja, yang bisa mendapatkan bayaran. Bahkan kalau hari raya Galungan, orangtuanya tidak membelikan baju baru. Made harus memelihara ayam sampai menjelang hari raya, kemudian menjual ayam itu untuk membeli baju baru.

Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.
Made kecil juga harus rela jalan kaki setiap hari menuju sekolahnya yang berjarak 2 km. Hal ini karena memang orang tuanya tidak membekalinya uang untuk biaya transport. Sampai kemudian dengan tertatih-tatih ia dapat menyelesaikan STM Pembangunan pada tahun 1975.
Secara tak sadar kondisi ini-lah yang membentuk Made menjadi seseorang yang berjiwa bisnis. Kejelian melihat peluang usaha dan mau bekerja keras adalah bekal utamanya menjadi seorang entrepreneur.

Bosan di Bali, Made hijrah ke Jakarta, menyusul kakaknya yang telah lebih dulu menetap di ibukota. Sampai di ibukota, Made harus bekerja keras demi sesuap nasi. Ia pernah menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan dan kondektur Bis PPD. Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskannya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ia menjadi orang yang ditakuti.
Tapi lama-lama Made bosan menjadi preman. Ia pun mulai berusaha di bidang penjualan telur. Ternyata, usaha telur pun mandeg. Ia kemudian beralih menjadi sopir omprengan dan sampai memiliki usaha omprengan sendiri. Namun sayang, akibat krisis moneter ia harus merelakan usahanya tersebut bangkrut, bahkan Made kembali hidup di rumah kontrakan bersama istrinya, setelah sebelumnya perekonomiannya sempat mapan.
Sampai suatu saat, tanpa sengaja Made melihat orang berjualan burger. Idenya muncul seketika. Bagaimana kalau ia juga ikut berjualan burger. Ia pun membeli gerobak dengan uang pinjaman seorang teman.

Made bersemangat menjalanan usaha barunya. Dibantu seorang teman lainnya, Made menjual burger berkeliling. Awalnya sedikit yang membeli burgernya, karena orang-orang mengira harganya mahal. Tapi setelah tahu kalau harganya Cuma Rp 1,700 banyak orang ketagihan dan kembali membeli. Made menamakan burgernya dengan merek Lovina- salah satu nama pantai di Bali yang sangat indah.
Banyak suka duka yang dialami Made selama berjualan burger sejak tahun 1990. Saat awal jualan, Kadang, tidak satupun pembeli menghampiri gerobak Made. Rasanya sedih sekali. Sudah capek mengayuh seharian, tapi pulang dengan tangan hampa. Belum lagi jika hari hujan, Made terpaksa tidak berjualan. Alhasil tidak ada penghasilan. Untungnya, Istri Made bekerja, sehingga dapur masih bisa ngebul.
Perlahan usaha Made mulai berkembang.Untuk meningkatkan penjualan, Made mengajak ibu-ibu sekitar tempat tinggalnya berjualan burger di lingkungan mereka. Semua bahan – bahan disediakan Made. Hanya dalam tempo dua tahun, gerobak burger Made bertambah menjadi 40 gerobak.
Untuk mempasok roti burger, Made berusaha membuat roti sendiri. Ia juga bereksperimen membuat saos burger dengan citarasa lidah Indonesia. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Pelanggan suka dengan resep itu dan penjualan terus meningkat.

Sampai suatu saat, Made bertemu dengan pengusaha Bob Sadino, pemilik Kem foods. Maklum, selama ini untuk daging, Made memang membelinya di Kem foods. Bob Sadino sangat mengapresiasi usaha Made, Ia juga yang kemudian memberi nama Edam, sebagai merk burger Made yang kemudian hari berkembang sangat pesat.
Made menyadari, berjualan burger menjadi alternatif yang jitu bagi mereka yang memutuskan berwirausaha. Untuk itu, ia membuka peluang franchise. Hanya dengan modal 2-3 juta orang sudah bisa bermitra dan mendapatkan konter lengkap. Made tidak mengambil fee konsinyasi dari para mitranya. Tapi ia mengharuskan mereka untuk membeli roti dan daging darinya. Hal ini dalam rangka menjaga citarasa dan mutu burger. Untuk memasok 2000 gerainya , Made kini memiliki 10 pabrik roti yang tersebar di Cibubur, Pondok Gede dan Ciputat.

Yang sangat diperhatikan Made pada para mitranya adalah mengenai pemilihan lokasi. Sebaiknya lokasi yang dipilih adalah yang dekat dengan sekolah, kampus, perkantoran atau tempat rekreasi. Maklum – karena Edam burger menyasar kalangan menengah ke bawah.
Made sangat serius menjalankan usaha burgernya. Ia tidak henti melakukan inovasi dalam pengolahan burger. Ada yang berbahan baku ubi, dan yang terbaru, adalah burger dari singkong. Harapan Made, agar hasil pertanian dapat terserap disamping juga menambah variasi menu Edam Burger sendiri.
Kini, Made sudah dapat dikatakan pengusaha yang sukses. Dengan kerja keras dan semangat tidak pantang menyerah, Pria kelahiran Bali ini sudah memiliki 3000 outlet Edam burger – yang tersebar di pulau jawa dan luar pulau jawa.

2 Comments on "kisah Made, pemilik Edam Burger"

commenter

Hi, Where are you from? Is it a secret? :)
Charlie

commenter

bagaimana cara kami bisa bergabung dg p made yang sukses
terima kasih

Leave a Reply

Name:
Email:
Website:
Comment:
XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>