Irwan Hidayat, Dibalik Suksesnya Sido Muncul

IRWAN HIDAYAT, PEMILIK SIDO MUNCUL
MEMBANGUN KEPERCAYAAN KONSUMEN UNTUK MAU MENGKONSUMSI JAMU

BAGI penikmat jamu atau pehobi nonton layar kaca, nama Sido Muncul tentu tidak asing lagi di telinga. Hampir semua kedai jamu dan toko kelontong menjual produk-produk Sido Muncul seperti Kuku Bima dan Tolak Angin. Belum lagi iklannya yang kerap menghampiri baik di televisi, radio maupun media luar ruang.

Sido muncul besar, tidak terbangun sendirinya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat Sido Muncul eksis sebagai perusahaan jamu yang setara dengan industri farmasi lainnya. Bagaimana tidak, produk-produk Sido Muncul telah terbukti secara klinis karena dibuat di laboratorium di bawah pengawasan para ahli obat-obatan. Bahkan pada tahun 2000, pemerintah telah memberi lisensi Cara Pembuatan obat yang Baik ( CPOB) kepada perusahaan yang dirintis sejak November 1951 oleh Ny Rakhmat Sulistyo, nenek dari Bos Sido Muncul – Irwan Hidayat,

Awalnya, Sido Muncul tidaklah terlalu istimewa, sama saja seperti industri jamu lain yang ribuan jumlahnya dengan beragam merek. Irwan Hidayat (kelahiran Yogyakarta tahun 1947), bersama empat orang adiknya sebagai generasi ketiga pemilik Sido Muncul, menerima warisan perusahaan pada tahun 1972 sesungguhnya sedang dalam keadaan kurang menguntungkan. Perusahaan menanggung utang dan hampir tak memiliki aset yang berarti. Utang bahan baku, kalau dihitung-hitung, itu setara dengan 30 bulan omzet perusahaan. Aset pabrik hanya 600 meter persegi, itupun tanpa memiliki sebuah mesin pun.

Sebagai bisnis keluarga yang dikelola turun-temurun, Irwan Hidayat mencoba tetap bertahan menghadapi pasang surut bisnis jamu. Dia percaya akan ada titik terang yang akan mencerahkan harapan dan kepercayaannya kepada industri jamu, yang merupakan warisan nenek-moyang, yang sudah mendarah-daging di hati segenap warga masyarakat, Irwan berharap masyarakat masih akan memberikan kepercayaan kepada jamu. Tetapi Hingga tahun 1993 perusahaan jamu yang ia pimpin masih berjalan sangat lambat, karena banyaknya persaingan dari perusahaan jamu lainnya, baik yang home industri maupun perusahaan yang lebih mapan yang jumlahnya mencapai ratusan dengan ribuan produk jamu. Irwan bingung, bagaiamana agar usaha jamunya berkembang. Sampai kemudian ia bertemu dengan orang gila, yang menyebutkan terus terang, bahwa jamu yang dibuat Irwan Hidayat pahit, tidak enakk, sama seperti jamu lainnya. Irwan kemudian berpikir keras bagaimana membuat jamu yang disukai dan berbeda dengan produk jamu lainnya.

Keadaan itu memacunya mencari terobosan-terobosan baru untuk mengangkat ”gengsi” Sido Muncul agar berbeda dengan jamu lainnya. Jika pabrik farmasi punya dokter, obat-obatan dari Cina punya sinshe sebagai pengobat, namun tidak demikian dengan jamu. Tidak ada pengobat yang dapat menjadi pamer bagi industri jamu untuk “memasarkan” produknya. Ketiadaan pengobat ini yang harus diatasi oleh industri jamu, yaitu dengan membangun kepercayaan publik bahwa jamu juga punya kredibilitas dalam hal kebersihan, uji toksisitas (tingkat peracunan-Red), dan syarat-syarat lain yang harus dipenuhi oleh obat.

Untuk itu, terobosan harus dilakukan. Tahun 1997, saat banyak industri terseok-seok menghadapi badai krisis yang melanda Indonesia, PT Sido Muncul justru mencanangkan pembangunan pabrik dengan sertifikasi industri farmasi, dan laboratorium yang terstandarisasi sebagai laboratorium farmasi.Di areal seluas 32 hektar dibangun laboratorium seluas 3.000 meter persegi dengan biasa 2,5 miliar rupiah, dan pabrik seluas tujuh hektar, termasuk pabrik mi. kini di areal itu juga dikembangkan sarana agrowisata seluas 1,5 hektar.

“Modalnya nekat. Ketidaktahuan justru menyelamatkan saya. Saat itu saya tidak punya utang dolar AS. Tetapi, karena tidak tahu, dari 15 miliar rupiah yang dianggarkan, biaya pembangunan pabrik membengkak sampai 30 miliar rupiah,” kata Irwan.Tetapi kenekatan itu kini membuahkan hasil. Tahun 2000 Departemen Kesehatan memberikan sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) kepada PT Sido Muncul, padahal selama ini industri jamu hanya mendapatkan sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Dengan CPOB “gengsi” jamu terangkat menjadi setara dengan obat. Atau, paling tidak jamu menjadi obat alternatif yang terbukti dapat diuji secara klinis keabsahan dan keilmiahannya sebagai obat.

Dengan CPOB terbuka pula pasar yang seluas-luasnya bagi setiap jamu produksi Sido Muncul. PT Sido Muncul kini memiliki 150 item produk jamu baik yang bermerek (branded) maupun yang generik. Sedikit diantara produk bermerek unggulan Sido Muncul, antara lain Kuku Bima, Tolak Angin, Kunyit Asem, Jamu Komplit, Jamu Instan, STMJ, Anak Sehat, dan lain-lain. Sido muncul pun siap melangkah ke pasar global.

Sido muncul mulai mengembangkan pemasarannya ke luar negeri. Hongkong, masuk ke pasar China, meski tidak mudah, karena pemerintah China sangat melindungi industri obat-obatan tradisionalnya. Irwan harus bisa membuktikan bahwa produknya lebih baik dari yang dimiliki China. Keberhasilan menembus pasar negara asing akan menjadi gaung yang berbalik untuk meningkatkan kepercayaan pasar dalam negeri.

Untuk memperluas pasar di dalam negeri, dilakukan diversifikasi produk dengan mengembangkan produk “brand”, yaitu minuman dalam bentuk serbuk. Potensi di pasar minuman kesehatan ini masih terbuka luas, dan pemainnya masih terbatas, tidak sehiruk-pikuk jamu

Selain itu, dilakukan langkah-langkah untuk membangun pasar secara vertikal. Jika selama ini jamu sering kali diidentikkan dengan kalangan masyarakat di lapisan menengah bawah, kini dibangun citra bahwa jamu juga milik kelompok masyarakat menengah atas.

Pencitraan itu dilakukan dengan mengubah konsep iklan, yaitu menampilkan tokoh-tokoh yang menjadi “wakil” kelas menengah atas, yaitu pengusaha Setiawan Djodi, pakar pemasaran Rhenal Kasali, dan kelompok musik “Dewa”. Usaha meningkatkan citra ini mendapat penghargaan Anugerah Cakram tahun 2002 untuk pengiklan terbaik.

Berbagai penghargaan pun diraih, antara lain Kehati Award tahun 2001, Bung Hatta Award tahun 2002 sebagai Perusahaan Teladan, Produk terbaik dari ASEAN Food Conference ke-8, Penghargaan Merek Dagang Indonesia tahun 2003 .

Tidak hanya itu, tekadnya memperluas pasar dalam negeri membuat Irwan dengan kemeja promosinya tidak segan-segan untuk terjun langsung ke pasar menjumpai distributor, agen, bahkan pedagang jamu gendong atau pemilik kios jamu untuk memasarkan produknya. Dalam satu bulan terakhir ini, tidak kurang 7.000 orang telah ditemuinya untuk memasarkan produknya, dan hasilnya tidak sia-sia. Dalam tiga bulan sejak produk minuman kesehatannya diluncurkan telah terjual 16 juta bungkus, atau sekitar seperenam dari pasar minuman kesehatan yang dikuasai oleh minuman sejenis yang lebih dahulu masuk ke pasar dan memimpin pasar.

KINI ada 60 distributor tersebar di setiap kabupaten di Pulau Jawa yang menjadi mitranya. Ditunjang oleh sekitar 150.000 pedagang jamu gendong dan 300.000 depot jamu. “Kita itu butuh membangun networking. Itu tidak bisa dilakukan kalau kita hanya duduk di dalam kantor, turun ke bawah itu akan lebih menyentuh dan membuat ikatan lebih kuat”, katanya. Semua itu diperolehnya dari pelajaran yang diberikan oleh biro iklannya bahwa menjalankan bisnis harus dengan hati nurani. Ia juga dapat pelajaran dari tukang bajaj, Bahwa setiap manusia mempunyai tanggungjawab sosial, beribalah dengan hati, bukan sekedar kewajiban.

Irwan berkesimpulan perusahaannya sebagai pioner industri jamu modern harus memiliki visi memberi manfaat lebih banyak kepada masyarakat, dan tidak mengejar keuntungan semata. Berdasarkan rasa tanggungjawab sosial itulah, Sido Muncul mengambil inisiatif memberikan anugerah tahunan Sido Muncul Award kepada setiap individu yang rela memberikan sebagian hidupnya untuk membantu sesama yang kurang beruntung, atau kepada individu yang peduli dan peka terhadap masalah sosial. Irwan dan tim sering datang langsung ke daerah-daerah yang terkena bencana alam, atau melakukan bakti sosial ke panti asuhan, penjara dan tempat-tempat lainnya. Secara rutin juga, setiap tahun Irwan membuat program mudik bareng untuk seluruh pedagang dan agen jamunya. Tahun ini, kali ke 20 Sido Muncul menyelenggarakan program ini dengan mengangkut 16.000 orang

3 Comments on "Irwan Hidayat, Dibalik Suksesnya Sido Muncul"

commenter

Kisah yang sangat menarik untuk kita tiru, tentunya saya bangga menjadi mitra beliau sebagai agen mandiri , dengan modal yang kecil mendapatkan income yang luar biasa
http://www.sidomunculgroup.blogspot.com
riswanto

commenter

Tentu kami sangat bangga dengan kesuksesannya, dan tentu sangat terharu dan kagum atas bantuan kepada saudara-saudara kami untuk pulang kampung dengan disiapkan kendaraan bus setiap hari raya lebaran.

commenter

d tmpt sya bnyak kunyit…………

klo mau sya kirim k tmpat produksi.y

Leave a Reply

Name:
Email:
Website:
Comment:
XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>